Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Beranda › Teknologi
Teknologi

BNPB Uji Teknologi Dry Ice untuk Urai Kabut Asap, Berpotensi Diterapkan di Kalbar

✍️ Fitriani 🕒 16 Oct 2026 👁️ 8x dibaca
Dry ice atau es kering berupa karbon dioksida padat berbentuk butiran kecil. Bahan bersuhu sangat rendah ini langsung berubah menjadi gas tanpa melewati fase cair dan tengah diuji BNPB untuk membantu mengurai kabut asap akibat karhutla.
Dry ice atau es kering berupa karbon dioksida padat berbentuk butiran kecil. Bahan bersuhu sangat rendah ini langsung berubah menjadi gas tanpa melewati fase cair dan tengah diuji BNPB untuk membantu mengurai kabut asap akibat karhutla. Foto: istimewa

infokayong.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menguji penggunaan dry ice atau es kering sebagai metode modifikasi atmosfer untuk membantu mengurangi penumpukan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Uji coba awal di Sumatera Selatan menunjukkan peningkatan jarak pandang, dari sekitar 650 meter menjadi 2.800 meter.

Pengujian yang dimulai pada Kamis (15/10/2026) tersebut menyasar kondisi atmosfer yang membuat asap terperangkap di dekat permukaan tanah. Metode ini diharapkan dapat membantu mengurai asap tanpa sepenuhnya bergantung pada ketersediaan awan hujan.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menjelaskan, penyemaian dry ice ditujukan untuk membantu mengubah kondisi atmosfer yang relatif stabil akibat lapisan inversi. Kondisi tersebut dapat menghambat pergerakan partikel asap ke lapisan udara yang lebih tinggi.

Dalam uji coba ini, BNPB menggunakan butiran dry ice berukuran sekitar tiga milimeter dengan suhu mencapai minus 75 derajat Celsius. Bahan tersebut disebarkan dari pesawat pada ketinggian sekitar 4.500 kaki.

Pesawat Cessna Caravan bernomor registrasi PK-SNP dikerahkan dari Bandara Raden Inten II, Lampung. Pada hari pertama, tim melaksanakan dua sorti penerbangan dengan membawa masing-masing 800 kilogram bahan semai.

Penyemaian dipusatkan di sekitar ring satu Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II. Area tersebut menjadi prioritas karena kabut asap berpotensi mengganggu jarak pandang dan aktivitas penerbangan.

Berbeda dari Es Biasa

Dry ice bukanlah air yang dibekukan seperti es batu, melainkan karbon dioksida (CO₂) dalam bentuk padat. Pada tekanan atmosfer normal, bahan ini memiliki suhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius dan berubah langsung menjadi gas tanpa melalui fase cair. Proses tersebut dikenal sebagai sublimasi.

Penggunaan dry ice dalam modifikasi atmosfer bukan hal baru. Teknik penyemaian dengan es kering pernah diteliti untuk membantu mengurai kabut dingin, termasuk dalam konteks peningkatan jarak pandang di bandara.

Namun, kabut dan asap karhutla memiliki karakteristik berbeda. Kabut umumnya terbentuk dari tetesan air di udara, sedangkan asap kebakaran mengandung partikel halus dan gas hasil pembakaran. Karena itu, keberhasilan teknik penyemaian dalam kondisi kabut tertentu tidak otomatis menjamin hasil serupa pada asap karhutla.

Bukan Pengganti Hujan Buatan

Metode penyemaian dry ice yang diuji BNPB juga memiliki sasaran berbeda dari operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk memicu hujan.

OMC bertujuan mendukung pembentukan hujan guna membantu penanganan kebakaran. Sementara itu, uji coba dry ice berfokus pada upaya mengurai asap yang terperangkap di lapisan bawah atmosfer dan memperbaiki jarak pandang.

Kedua pendekatan tersebut dapat mendukung penanganan karhutla melalui mekanisme yang berbeda, tetapi tidak dapat dianggap saling menggantikan.

Jarak Pandang Membaik Belum Menjamin Kualitas Udara

Peningkatan jarak pandang dari 650 meter menjadi 2.800 meter menjadi hasil awal yang dilaporkan BNPB. Meski demikian, data tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa kualitas udara secara keseluruhan ikut membaik.

Asap yang menyebar dapat mengurangi konsentrasi di satu titik, tetapi belum tentu menurunkan jumlah polutan di udara secara keseluruhan. Untuk menilai dampaknya, diperlukan pengukuran tambahan, termasuk konsentrasi partikel halus PM2.5, perubahan kualitas udara sebelum dan sesudah penyemaian, serta pemantauan di wilayah sekitar.

Hal ini penting karena jarak pandang yang membaik tidak selalu berarti risiko kesehatan akibat paparan asap telah berakhir.

BNPB menjadwalkan rangkaian uji coba OMC menggunakan dry ice hingga 18 Oktober 2026. Setelah rangkaian tersebut, evaluasi dan koordinasi dengan pihak terkait akan dilakukan untuk mempertimbangkan kemungkinan penerapan metode serupa di wilayah lain.

Bagi Kalimantan Barat yang juga menghadapi ancaman karhutla dan kabut asap, hasil evaluasi tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan. Namun, penerapan teknologi ini perlu disesuaikan dengan kondisi atmosfer setempat dan didukung bukti terukur mengenai dampaknya terhadap kualitas udara.

Keberhasilan teknologi tersebut pada akhirnya tidak cukup dinilai dari berkurangnya asap yang terlihat. Pengukuran kualitas udara dan perlindungan masyarakat dari paparan polusi tetap menjadi bagian penting dalam evaluasi.

F
FitrianiEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update