Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Beranda › Daerah
Daerah

Karhutla Kayong Utara dan Ancaman Rusaknya Ekosistem Gambut

✍️ Hendra Wijaya 🕒 16 Sep 2026 👁️ 32x dibaca
Kebakaran Lahan Gambut di Nagan Raya 2023
Kebakaran Lahan Gambut di Nagan Raya 2023 Foto: BBC.com

Infokayong.com – Kawasan gambut di Kabupaten Kayong Utara menghadapi ancaman kerusakan yang serius seiring dengan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Aktivitas pembukaan lahan dan pembangunan kanal menjadi salah satu hal yang disoroti Link-AR Borneo.

Lembaga swadaya masyarakat tersebut menilai kawasan gambut yang seharusnya berfungsi sebagai penyimpan air justru semakin kering akibat perubahan tata air.

Direktur Eksekutif Link-AR Borneo Ahmad Syukri menyebut PT Mayawana Prasada menjadi salah satu korporasi pemegang izin Hutan Tanaman Industri (HTI) yang aktivitasnya mendapat perhatian lembaganya.

Menurut Ahmad, kanalisasi di kawasan gambut berpotensi membuat air keluar dari kawasan sehingga gambut kehilangan kelembapan alaminya. Saat musim kemarau tiba, kondisi tersebut dapat memperbesar risiko terjadinya kebakaran.

Ahmad mengatakan tanggung jawab terhadap kondisi kawasan tidak hanya berada pada perusahaan pemegang izin. Pemerintah sebagai pihak yang menerbitkan izin juga dinilai harus ikut bertanggung jawab.

“Protes ini sebenarnya sudah lama kita layangkan, baik ke perusahaan maupun ke pemerintah. Ada dua pihak yang mesti bertanggung jawab terhadap kerusakan ekosistem gambut di Kayong Utara, yaitu pemilik izin, PT Mayawana Prasada, dan pemberi izin, dalam hal ini pemerintah,” ujar Ahmad Syukri.

Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Profesor Dwi Astiani, menjelaskan bahwa gambut pada dasarnya merupakan ekosistem yang mampu menahan air dalam jumlah besar.

Selama kondisinya masih alami, air berada dekat dengan permukaan sehingga gambut tetap lembap dan tidak mudah terbakar.

“Kalau kawasan gambut masih asli, tinggi airnya hampir mendekati permukaan. Jadi dia selalu basah,” kata Profesor Dwi Astiani.

Kondisi itu dapat berubah ketika kawasan dibuka dan dibuat kanal. Menurut Dwi, kanal yang tidak disertai bangunan pengatur air dapat menyebabkan permukaan air gambut terus turun.

“Kalau dibangun kanal tapi tidak dibangun (pengatur air-red), lama-kelamaan airnya akan turun sampai sedalam paritnya,” jelasnya.

Ketika kadar air menurun, gambut berubah menjadi material yang lebih mudah terbakar. Api yang awalnya kecil pun bisa menjadi persoalan besar karena material organik di dalam gambut sangat mudah terbakar.

“Orang menyulut api sedikit saja itu bahan bakar yang paling potensial,” ujarnya.

Karhutla di lahan gambut juga tidak selalu terlihat seperti kebakaran di permukaan. Api bisa bergerak di lapisan bawah gambut dan terus membara tanpa mudah terdeteksi.

Dwi mengatakan panas dari api akan ikut mengeringkan gambut di sekitarnya. Siklus tersebut membuat api semakin mudah menyebar.

“Kalau sudah apinya mulai menyala, dia mulai memanaskan sekitarnya, kering gambutnya dan seterusnya menjadi besar apinya, mengeringkan sekelilingnya. Lama-lama enggak bisa kita kendalikan,” katanya.

Untuk mencegah kondisi tersebut, pengelolaan tata air menjadi hal penting. Kanal yang berada di kawasan gambut perlu diberi penahan agar air tidak terus mengalir keluar.

“Jadi dipasang penahan air sehingga dia tidak mengering airnya,” ujarnya.

Menurut Dwi, persoalan gambut bukan hanya soal kebakaran yang terjadi saat ini, tetapi juga menyangkut proses pemulihan ekosistem yang membutuhkan waktu panjang.

Dalam kondisi alami, pembentukan gambut hanya berlangsung sekitar 2 hingga 3 milimeter per tahun. Sebaliknya, ketika terbakar, lapisannya bisa hilang dengan cepat.

“Kita bayangkan dalam kebakaran satu menit, sepuluh menit sudah 15 sentimeter hilang,” katanya.

Kalimantan Barat sendiri memiliki kawasan gambut yang terbentuk dalam rentang waktu ribuan tahun. Usianya diperkirakan mencapai 5.000 hingga 10.000 tahun.

Karena itu, kerusakan yang terjadi akibat kebakaran tidak mudah dikembalikan seperti semula.

“Untuk gambut kembali itu sepertinya memerlukan waktu yang sangat-sangat lama, berabad-abad,” ujarnya.

Kerusakan gambut juga berdampak terhadap kemampuan kawasan dalam menyimpan air. Gambut yang sehat berfungsi menyerap dan menahan air hujan. Ketika rusak, fungsi tersebut berkurang dan aliran air menuju wilayah hilir berpotensi meningkat.

Dwi mengingatkan pentingnya kehati-hatian seluruh pihak dalam mengelola kawasan gambut.

“Semua harus pintar dalam mengelola gambut,” tegasnya.

Menurut dia, menjaga tata air, mempertahankan kelembapan dan mencegah kebakaran merupakan bagian penting untuk melindungi ekosistem gambut, khususnya saat musim kemarau.

HW
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update