Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Budaya Ngopi Pontianak Buka Peluang Bisnis Kuliner dan Wisata Lintas Negara

✍️ Fitriani 🕒 21 Oct 2026 👁️ 5x dibaca
Salah satu pemilik warung kopi di Pontianak.
Salah satu pemilik warung kopi di Pontianak. Foto: istimewa

infokayong.com – Budaya minum kopi yang melekat dalam kehidupan masyarakat Pontianak berpotensi menjadi penggerak ekonomi kuliner sekaligus daya tarik wisata. Dengan lebih dari seribu objek usaha warung kopi dan coffee shop yang tercatat di data pemerintah daerah, sektor ini memiliki ruang untuk dikembangkan melalui promosi wisata dan kerja sama lintas negara.

Peluang tersebut turut terlihat dari kesan Konsul Malaysia di Pontianak, Idham Zuhri, yang menilai budaya kopi di Kota Khatulistiwa mengingatkannya pada Buenos Aires, Argentina, tempat ia pernah bertugas.

Menurut Idham, keberadaan kafe di berbagai sudut Pontianak menghadirkan suasana yang terasa akrab baginya. Budaya tersebut menjadi salah satu hal yang memudahkan proses adaptasinya di kota ini.

“Di sini saya lihat kafe ada di mana-mana. Ini mengingatkan saya pada Buenos Aires. Aroma kopinya juga sangat menyenangkan,” ujar Idham seusai bersilaturahmi dengan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Pontianak, Selasa (20/10/2026).

Kemiripan budaya itu dinilai dapat menjadi modal untuk memperkenalkan pengalaman kuliner Pontianak kepada pengunjung dari luar daerah, termasuk wisatawan Malaysia.

Lebih dari 1.000 Usaha Kopi Tercatat

Data Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) sektor makanan dan minuman yang dirilis Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Pontianak mencatat 1.035 objek usaha warung kopi dan coffee shop per Agustus 2025.

Usaha tersebut tersebar di enam kecamatan. Pontianak Selatan dan Pontianak Kota menjadi kawasan dengan jumlah usaha terbanyak berdasarkan rincian yang dipublikasikan.

Pontianak Selatan tercatat memiliki 368 usaha, disusul Pontianak Kota sebanyak 362 usaha. Berikutnya, Pontianak Tenggara memiliki 136 usaha, Pontianak Timur 59 usaha, Pontianak Utara 57 usaha, dan Pontianak Barat 48 usaha.

Namun, penjumlahan rincian keenam kecamatan menghasilkan 1.030 usaha, berbeda lima objek dari total 1.035 yang dilaporkan. Selisih tersebut perlu dikonfirmasi kepada Bapenda sebelum angka digunakan sebagai statistik final.

Banyaknya usaha memperlihatkan beragamnya pilihan bagi konsumen, mulai dari warung kopi tradisional hingga kedai modern dengan variasi menu, desain ruang, dan layanan digital.

Di tengah persaingan tersebut, pelaku usaha perlu menjaga kualitas produk, harga, pelayanan, dan kenyamanan tempat agar pelanggan kembali. Jumlah kedai yang besar tidak serta-merta menjamin keuntungan, sebab biaya sewa, bahan baku, tenaga kerja, dan jumlah transaksi turut menentukan keberlangsungan bisnis.

Warung Tradisional Punya Nilai Sejarah

Salah satu contoh perjalanan usaha kopi di Pontianak terlihat dari Kopi Asiang. Informasi pariwisata Indonesia menyebut usaha tersebut bermula pada 1958, ketika ayah Asiang menjajakan kopi menggunakan gerobak di bawah pohon di kawasan Jalan Agus Salim.

Usaha keluarga itu kemudian berkembang. Pada 1992, warung kopi tersebut berpindah dari gerobak ke ruko di Jalan Merapi. Penyajian kopi tradisional menggunakan saringan kain menjadi bagian dari pengalaman yang dikenal pelanggan.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa daya tarik usaha kopi tidak selalu bergantung pada bangunan besar atau interior modern. Konsistensi rasa, cara penyajian, sejarah, dan kedekatan dengan pelanggan juga dapat membentuk identitas sebuah kedai.

Nilai sejarah seperti ini berpeluang dikemas sebagai bagian dari wisata kuliner, sehingga pengunjung tidak hanya membeli minuman, tetapi juga mengenal cerita di balik usaha yang mereka datangi.

Rantai Ekonomi dari Secangkir Kopi

Aktivitas warung kopi turut berkaitan dengan usaha lain, seperti pemasok biji kopi, susu, gula, produsen roti, pedagang makanan, hingga tenaga kerja yang melayani pelanggan.

Kedai yang menyediakan makanan berat dan kudapan juga berpotensi meningkatkan belanja pengunjung. Meski demikian, besarnya dampak ekonomi sektor ini masih memerlukan data pendukung, antara lain omzet usaha, jumlah pekerja, serta nilai pembelian bahan baku.

Untuk memperkuat perannya dalam pariwisata, promosi warung kopi dapat dihubungkan dengan paket wisata kuliner, informasi sejarah kedai, pemasaran digital, dan destinasi lain di Pontianak.

Pengalaman menikmati kopi tradisional, mencicipi roti srikaya, atau berkunjung ke warung yang telah beroperasi puluhan tahun dapat menjadi bagian dari perjalanan wisata yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.

Kerja Sama dengan Malaysia Berpeluang Diperluas

Peluang promosi kuliner lintas negara juga muncul dalam pertemuan Konsulat Malaysia dengan Pemerintah Kota Pontianak. Idham menyampaikan bahwa pihaknya masih menyusun dan menelaah berbagai kegiatan yang berpotensi dilaksanakan bersama.

Konsulat Malaysia sebelumnya telah menggelar demonstrasi masakan khas Malaysia, di antaranya roti jala dan sejumlah hidangan nasi, sebagai langkah awal memperkenalkan kuliner negara tersebut kepada masyarakat Pontianak.

“Baru-baru ini kami melaksanakan demonstrasi masakan Malaysia, seperti roti jala dan beberapa hidangan nasi. Itu salah satu inisiatif awal, dan insyaallah akan ada lebih banyak kegiatan bersama di Pontianak,” kata Idham.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono berharap hubungan tersebut berlanjut menjadi program nyata, termasuk kegiatan yang mempertemukan potensi ekonomi dan budaya kedua pihak.

“Prinsipnya tentu bukan hanya perkenalan. Ke depan kita berharap ada event-event dan bentuk kerja sama yang bisa kita lakukan bersama,” ujar Edi.

Ia menilai kedekatan geografis Kalimantan Barat dengan Sarawak, Malaysia, menjadi salah satu modal untuk memperluas hubungan sosial, ekonomi, dan budaya.

“Wilayah kita berbatasan langsung dengan Sarawak. Jadi secara hubungan dan akses memang dekat. Ini menjadi potensi yang bisa terus dikembangkan,” jelasnya.

Kedekatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menjajaki promosi bersama, agenda kuliner, serta pertukaran pelaku usaha. Namun, pelaksanaannya tetap membutuhkan program yang jelas agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh pemilik warung kopi, pelaku kuliner, dan sektor pendukung lainnya.

“Yang penting komunikasi tetap terjaga. Kalau ada peluang kolaborasi yang baik untuk kedua pihak, tentu kita terbuka,” pungkas Edi.

Budaya ngopi telah menjadi bagian dari keseharian Pontianak. Tantangan berikutnya ialah menghubungkan karakter warung tradisional dan inovasi kedai modern dengan strategi pariwisata yang terukur, sehingga potensi bisnis kopi dapat berkembang tanpa mengabaikan keberlanjutan usaha di tengah persaingan.

F
FitrianiEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update