BWS Kalimantan III Distribusikan Mesin Pompa Portabel untuk Penyelamatan Lahan Tani Terdampak Kemarau di HST
HULU SUNGAI TENGAH — Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III Banjarmasin mengambil langkah tanggap darurat untuk menyalurkan bantuan berupa tiga unit alat mesin pompa air portabel ke area pertanian yang dilanda kekeringan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan. Penyerahan dan pengoperasian sarana pengairan ini difokuskan di lahan pertanian milik warga yang berlokasi di Desa Kayu Rabah, Kecamatan Pandawan.
Langkah strategis intervensi pasokan air tersebut dilakukan guna merespons ancaman kekeringan hebat yang membayangi ratusan hektare area persawahan akibat terpaan musim kemarau ekstrem. Wilayah Kalimantan Selatan tercatat mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga durasi 118 hari berturut-turut, memecahkan rekor periode tanpa hujan paling panjang di seluruh kawasan Pulau Kalimantan. Kondisi tanpa presipitasi yang berlarut-larut ini membuat debit sumber air permukaan merosot drastis dan menyebabkan lahan pertanian warga mengering, sehingga jadwal musim tanam menjadi tidak optimal dan mengancam produktivitas pangan lokal.
Melalui operasionalisasi tiga unit mesin pompa portabel tersebut, BWS Kalimantan III melakukan penyemprotan serta pemompaan air langsung dari sumber air terdekat untuk membasahi tanah persawahan yang mulanya telah retak dan kehilangan kelembapan. Kehadiran fasilitas teknis ini mempermudah mobilitas penyaluran air secara fleksibel karena perangkat mesin portabel mudah dipindahkan sesuai dengan jangkauan petak sawah yang mengalami krisis air paling parah.
Pihak BWS Kalimantan III menegaskan bahwa bantuan tanggap darurat ini ditujukan untuk menjaga agar tanaman padi yang telah ditanam warga dapat bertahan hidup melewati puncak gelombang panas. Selain menekan risiko kegagalan panen (crop failure) di tingkat petani, pendistribusian air ini dicanangkan guna menjaga stabilitas Indeks Pertanaman (IP) di Kabupaten Hulu Sungai Tengah agar target pasokan dan ketahanan pangan daerah tetap terjaga secara berkelanjutan.
Kronologi Krisis Air dan Respons Cepat di Lapangan
Kemarau panjang yang menghantam sebagian besar daratan Kalimantan Selatan pada periode tahun ini tidak hanya berdampak pada penurunan kapasitas air bersih, namun juga langsung memukul sektor agraris di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Lahan persawahan produktif di Kecamatan Pandawan, khususnya Desa Kayu Rabah, menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak oleh cuaca ekstrem tersebut.
Tanpa adanya pasokan irigasi yang memadai, hamparan padi milik masyarakat terancam rusak sebelum memasuki masa panen. Mengingat mayoritas masyarakat kawasan ini bergantung pada sektor pertanian pasang surut dan tadah hujan, ketiadaan hujan berbulan-bulan berpotensi melumpuhkan perekonomian lokal.
Guna membendung dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas, BWS Kalimantan III Banjarmasin menerjunkan tim teknis ke lapangan pada awal pekan ini. Tim BWS langsung memetakan titik-titik krisis air di areal sawah Desa Kayu Rabah dan memasang jaringan sistem instalasi pemompaan darurat.
Tiga unit mesin pompa berkapasitas memadai difungsikan untuk menyedot air dari alur anak sungai dan genangan yang tersisa, lalu menyalurkannya menggunakan selang ke area persawahan warga yang berada di posisi lebih tinggi. Dalam waktu singkat, hamparan persawahan yang sebelumnya mengering dan retak-retak perlahan mulai tergenangi air kembali, memberikan kelegaan bagi para petani setempat.
Upaya Mitigasi Berkelanjutan dan Pentingnya Infrastruktur Air
Penanganan masalah darurat kekeringan ini merupakan bagian dari program mitigasi bencana iklim yang diusung oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui balai-balai wilayah sungai di Indonesia. Di Kalimantan Selatan, pemetaan potensi ancaman kekeringan terus diperbarui untuk mengantisipasi gejolak iklim global yang kian sulit diprediksi.
Selain menyalurkan unit mesin pompa portabel sebagai perbantuan jangka pendek, pihak otoritas terkait juga mengimbau seluruh elemen masyarakat dan kelompok tani di pedesaan untuk menjaga kebersihan saluran irigasi primer, sekunder, maupun tersier. Pembersihan drainase dan parit dari kotoran atau endapan lumpur dinilai sangat krusial agar aliran air tidak tersumbat saat air mulai dipompa, sekaligus mencegah risiko genangan air mendadak atau banjir manakala musim beralih menuju intensitas hujan tinggi.
Di sisi lain, kolaborasi antara BWS Kalimantan III, pemerintah daerah Kabupaten Hulu Sungai Tengah, serta kelompok tani lokal terus diperkuat. Langkah pemantauan rutin akan terus dilakukan di lapangan guna memastikan tiga unit pompa portabel tersebut beroperasi dengan optimal selama musim kemarau berlangsung.
Dengan tersalurkannya bantuan alat pengairan ini, para petani di Hulu Sungai Tengah diharapkan dapat menuntaskan masa tanam hingga masa panen tanpa dibayang-bayangi ancaman kelangkaan air. Upaya responsif ini sekaligus membuktikan pentingnya kesiapsiagaan infrastruktur sumber daya air dalam menjaga stabilitas pasokan pangan daerah maupun nasional di tengah tantangan pergeseran iklim.
