Kamis, 29 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Beranda › Daerah
Daerah

Duka di Barito Selatan, Bayi 6 Bulan Meninggal Akibat Pneumonia dan Kejang di RSUD Jaraga Sasameh

✍️ Fitriani 🕒 16 Oct 2026 👁️ 2x dibaca
Bayi 6 Bulan Meninggal Akibat Pneumonia dan Kejang di RSUD Jaraga Sasameh
Bayi 6 Bulan Meninggal Akibat Pneumonia dan Kejang di RSUD Jaraga Sasameh Foto: istook

BARITO SELATAN — Peristiwa duka menimpa sebuah keluarga di Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah. Seorang bayi perempuan berinisial SH yang baru berusia enam bulan dilaporkan meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan medis darurat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Jaraga Sasameh Buntok pada Sabtu (10/10/2026) sore sekitar pukul 17.00 WIB. Bayi mungil asal Desa Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan tersebut, dilarikan ke rumah sakit usai mengalami kondisi krisis berupa gangguan pernapasan hebat yang disertai kejang-kejang.

Berdasarkan penanganan medis intensif yang dilakukan oleh tim dokter di rumah sakit, korban terdiagnosa mengidap penyakit pneumonia atau infeksi paru-paru tingkat berat. Kejadian tragis ini memicu keprihatinan mendalam di tengah kondisi kualitas udara yang sedang terganggu akibat fenomena kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti kawasan sekitar.

Kronologi Penanganan Medis Pasien di IGD

Pihak manajemen rumah sakit membenarkan adanya insiden medis yang merenggut nyawa pasien balita tersebut. Berdasarkan keterangan resmi, pasien bayi tiba di unit IGD RSUD Jaraga Sasameh Buntok pada Sabtu siang sekitar pukul 14.00 WIB dalam kondisi fisik yang sudah sangat memprihatinkan dan masuk dalam kategori kritis.

Direktur RSUD Jaraga Sasameh Buntok, dr. Dadang Baskoro Nugroho, Sp.PD, FINASIM, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengonfirmasi bahwa bayi malang itu dirujuk dan tiba di fasilitas kesehatan dalam keadaan mengalami masalah pernapasan serius serta kejang.

"Memang benar waktu itu ada bayi berumur 6 bulan meninggal dunia. Namun, bayi tersebut datang ke IGD dalam kondisi sesak napas dan kejang-kejang," ujar Dadang, Jumat (16/10/2026).

Begitu tiba di IGD, penanganan darurat langsung dilakukan oleh tim medis guna mengembalikan kestabilan fungsi organ vital pasien. Berbagai upaya pertolongan pertama serta penegakan diagnosis cepat dieksekusi. Namun, karena peradangan paru-paru yang diderita sudah meluas dan memicu komplikasi sistem saraf hingga kejang, kondisi kesehatan bayi SH terus menurun secara drastis dalam jangka waktu tiga jam penanganan. Pada akhirnya, tim medis menghembuskan napas terakhir pasien sekitar pukul 17.00 WIB.

Risiko Kesehatan Bayi di Tengah Ancaman Kabut Asap Karhutla

Kasus kematian bayi akibat pneumonia ini terjadi bersamaan dengan situasi lingkungan Kalimantan Tengah yang tengah berjuang menghadapi ancaman paparan partikel abu dan kabut asap Karhutla. Kelompok usia balita dan anak-anak terbukti menjadi populasi yang paling rentan terdampak oleh penurunan kualitas udara, mengingat daya tahan tubuh serta sistem pernapasan mereka belum berkembang secara sempurna.

Polusi asap pekat yang mengandung berbagai partikel berbahaya sangat berpotensi memicu timbulnya peradangan akut pada saluran napas, memperburuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga mengakibatkan komplikasi fatal seperti pneumonia. Kondisi ini diperparah jika penanganan medis terlambat diberikan saat gejala awal mulai muncul pada anak.

Imbauan dan Panduan Penting Bagi Orang Tua

Menanggapi insiden yang memprihatinkan ini, pihak otoritas kesehatan rumah sakit mengimbau masyarakat luas, khususnya para orang tua yang memiliki bayi atau balita, agar meningkatkan kewaspadaan ekstra terhadap kondisi kesehatan buah hati mereka, terutama selama masa bencana kabut asap berlangsung.

Deteksi dini terhadap gejala gangguan pernapasan sangat vital untuk mencegah terjadinya komplikasi fatal yang tidak diinginkan. Masyarakat diminta untuk tidak mengabaikan tanda-tanda klinis awal ketika anak mulai menunjukkan perubahan fisik atau penurunan kondisi tubuh.

"Kasus ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap gangguan pernapasan, khususnya pada bayi dan anak-anak di tengah kabut asap. Orang tua diimbau segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami sesak napas, napas cepat, sulit menyusu atau minum, maupun penurunan kesadaran," pungkasnya.

Sebagai langkah antisipasi mandiri, masyarakat juga disarankan untuk membatasi aktivitas luar ruangan bagi anak-anak, mengondisikan ventilasi rumah tetap bersih dari paparan asap, serta segera mendatangi pusat layanan kesehatan terdekat begitu menemukan gejala awal masalah pernapasan pada balita.

F
FitrianiEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update