Indonesia Jajaki Kerja Sama Pertanian dan Hilirisasi dengan China, Komoditas Daerah Jadi Fokus
infokayong.com – Pemerintah Indonesia menjajaki kerja sama dengan China di bidang pertanian modern, hilirisasi, dan industrialisasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta membuka lapangan kerja di kawasan transmigrasi.
Penjajakan tersebut dilakukan Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara melalui kunjungan kerja ke China pada 12–18 Oktober 2026. Pemerintah ingin mempelajari pemanfaatan teknologi, pengembangan investasi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, terutama di luar Pulau Jawa.
"Kita membutuhkan teknologi, investasi, industri, dan sumber daya manusia yang mampu menciptakan nilai tambah. Karena itu, kita ingin belajar dari pengalaman China dalam membangun industri dan mengembangkan ekonomi pedesaan," kata Iftitah dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Minggu.
Menurut Iftitah, pengalaman China dalam menghubungkan sektor pertanian dengan pembangunan infrastruktur, industrialisasi, dan peningkatan kualitas tenaga kerja dapat menjadi referensi bagi pengembangan kawasan transmigrasi di Indonesia.
Ia menilai kawasan transmigrasi perlu dikembangkan menjadi pusat kegiatan ekonomi produktif yang mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Dengan demikian, kawasan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai lokasi perpindahan penduduk dan penyediaan lahan.
Durian hingga Kakao Masuk Fokus Penjajakan
Dalam agenda kunjungan, Iftitah dijadwalkan bertemu dengan Kementerian Pertanian dan Pedesaan China atau Ministry of Agriculture and Rural Affairs (MARA) pada 12 Oktober. Pertemuan tersebut membahas peluang kerja sama pertanian modern, teknologi produksi, pengolahan hasil pertanian, serta revitalisasi ekonomi perdesaan.
Penjajakan juga melibatkan Akademi Ilmu Pengetahuan Pertanian China atau Chinese Academy of Agricultural Sciences (CAAS) dan Pusat Kerja Sama Ekonomi Luar Negeri China atau Foreign Economic Cooperation Center (FEC).
Sejumlah komoditas dari kawasan transmigrasi Indonesia berpotensi dikembangkan melalui kerja sama tersebut. Komoditas yang disebut meliputi durian di Sulawesi Tengah, kelapa genjah di Nusa Tenggara Timur, kelapa di Maluku Utara, serta padi, kakao, kopi, dan tebu di Papua.
Iftitah menegaskan, pengembangan kerja sama tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi komoditas. Pemerintah juga ingin mendorong pembangunan industri pengolahan, memperluas akses pasar, melakukan transfer teknologi, dan menyiapkan tenaga kerja lokal.
"Kita ingin lebih banyak produk diolah di Indonesia, lebih banyak nilai tambah tinggal di daerah, dan lebih banyak masyarakat memperoleh pekerjaan," ujar Mentrans.
Perluas Kerja Sama Akademik dan Penelitian
Selain bertemu dengan perwakilan pemerintah China, Iftitah dijadwalkan memberikan kuliah umum di Institute of South-South Cooperation and Development (ISSCAD), Peking University, Beijing, pada 12 Oktober.
Dalam kegiatan tersebut, ia akan memaparkan transformasi transmigrasi Indonesia melalui pengembangan kawasan berbasis investasi, industrialisasi, peningkatan produktivitas, dan pemerataan kesempatan ekonomi.
Kerja sama akademik kedua negara sebelumnya juga telah dijajaki. Pada 9–22 Mei 2026, Kementerian Transmigrasi mengirimkan 36 peserta ke China untuk mengikuti pelatihan pengembangan kawasan transmigrasi dan pengentasan kemiskinan.
Selanjutnya, pada Agustus 2026, ISSCAD Peking University menyatakan kesiapan memperluas kerja sama dengan Kementerian Transmigrasi melalui penelitian bersama dan pertukaran akademik untuk mendukung pembangunan kawasan transmigrasi.
Delegasi Kunjungi Pusat Industri dan Riset
Rangkaian kunjungan juga mencakup sejumlah pusat industri dan penelitian di Beijing, Chongqing, Hangzhou, Zhejiang, dan Shanghai.
Lokasi yang direncanakan masuk dalam agenda antara lain BAIC Group, Chongqing Academy of Agricultural Sciences, Chongqing Sanfeng Environment Group, China National Rice Research Institute, Zhejiang Huayou Cobalt, Zhenshi Holding Group, dan Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC).
Melalui kunjungan tersebut, delegasi Kementerian Transmigrasi akan mempelajari pengembangan manufaktur, teknologi lingkungan, dan riset pertanian. Hasil pembelajaran diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk memperkuat kegiatan ekonomi di kawasan transmigrasi Indonesia.
Di dalam negeri, Kementerian Transmigrasi pada September 2026 juga mengevaluasi 246 program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026. Program tersebut melibatkan 1.476 peserta yang tersebar di 53 kawasan transmigrasi untuk memastikan kegiatan berjalan sesuai kebutuhan masyarakat dan target pembangunan kawasan.
Iftitah menyatakan bahwa pendekatan yang dipelajari dari China akan disesuaikan dengan kondisi geografis, sosial, budaya, lingkungan, serta kebutuhan masyarakat Indonesia.
"Ukuran keberhasilan diplomasi ekonomi bukan berapa banyak negara yang kita kunjungi atau berapa banyak pertemuan yang kita lakukan. Ukurannya adalah manfaat nyata bagi Indonesia. Berapa investasi yang masuk, berapa lapangan kerja yang tercipta, dan berapa pendapatan masyarakat yang meningkat," tutur Iftitah.
Pemerintah berharap penjajakan tersebut dapat ditindaklanjuti melalui peluang investasi, pengembangan industri pengolahan, penelitian bersama, dan peningkatan keterampilan masyarakat. Namun, realisasi investasi maupun penciptaan lapangan kerja masih bergantung pada hasil pembahasan dan tindak lanjut kerja sama kedua negara.
