Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Industri Elektronik Indonesia Tertinggal dari Vietnam dan Malaysia, Ini Penyebabnya

✍️ Fitriani 🕒 20 Oct 2026 👁️ 2x dibaca
Ilustrasi Line produksi ponsel di pabrik Vivo Cikupa, Tangerang, Banten.
Ilustrasi Line produksi ponsel di pabrik Vivo Cikupa, Tangerang, Banten. Foto: istimewa

infokayong.com – Daya saing industri elektronik Indonesia masih tertinggal dibandingkan Vietnam dan Malaysia dalam persaingan ekspor manufaktur. Pemerintah menilai keterbatasan akses perdagangan internasional, kebijakan pengembangan industri, serta skala kawasan ekonomi menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi kondisi tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Vietnam memiliki jaringan perjanjian perdagangan bebas yang lebih luas sehingga produk ekspornya mendapatkan akses lebih kompetitif ke pasar internasional.

Sebaliknya, Indonesia masih menghadapi beban tarif di sejumlah negara tujuan ekspor yang dapat memengaruhi daya saing harga produk manufaktur nasional.

”Vietnam sudah punya semua free trade agreement atau CEPA. Dengan Eropa sudah, dengan Amerika sudah. Sehingga biaya masuk rata-rata Vietnam ke seluruh dunia 0 persen. Sedangkan, Indonesia 10 sampai 15 persen,” ujar Airlangga di Jakarta, Senin (19/10/2026).

Industri Elektronik Indonesia Kehilangan Momentum

Airlangga menilai, kebijakan industri pada masa lalu turut memengaruhi perkembangan sektor elektronik nasional. Industri tersebut dinilai kurang mendapatkan dukungan karena dianggap tidak cukup padat karya.

”Zaman baheula, kita pernah menggeser yang namanya industri elektronik. Karena kita merasa kalau industri itu tidak padat karya maka dia tidak punya hak untuk hidup di Republik. Nah, mereka pindah ke Vietnam dan Malaysia,” tuturnya.

Padahal, industri elektronik memiliki peran strategis dalam meningkatkan ekspor manufaktur, menarik investasi, serta menghubungkan perusahaan dalam negeri dengan rantai pasok global.

Airlangga menyebut kontribusi ekspor elektronik Vietnam dan Malaysia telah mendekati 40 persen dari total ekspor masing-masing negara. Sementara itu, Indonesia dinilai belum mampu memaksimalkan potensi sektor tersebut.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi Indonesia dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui industri bernilai tambah tinggi. Pengembangan sektor manufaktur juga berpotensi membuka lapangan kerja, mempercepat transfer teknologi, dan memperluas keterlibatan pemasok lokal.

Kawasan Ekonomi Jadi Penentu Daya Saing

Selain akses perdagangan, skala kawasan ekonomi juga menjadi perhatian pemerintah. Airlangga menyebut Vietnam memiliki kawasan ekonomi seluas 1,8 juta hektare, sedangkan Malaysia sekitar 2 juta hektare. Adapun luas kawasan ekonomi di Indonesia disebut baru mencapai sekitar 24 ribu hektare.

Perbedaan skala tersebut dinilai berkaitan dengan kemampuan negara menyediakan kawasan industri, infrastruktur, fasilitas logistik, dan dukungan bagi investor.

Meski demikian, luas kawasan bukan satu-satunya penentu keberhasilan investasi. Ketersediaan energi, akses pelabuhan, tenaga kerja terampil, kepastian hukum, serta kesiapan infrastruktur turut menentukan daya tarik suatu kawasan industri.

Karena itu, Indonesia perlu memastikan pengembangan kawasan ekonomi tidak hanya berorientasi pada perluasan lahan, tetapi juga mampu menarik investasi produktif dan memperkuat hubungan antara industri besar dengan perusahaan domestik.

Pemerintah Siapkan Klaster Ekonomi Regional

Untuk meningkatkan daya saing daerah, pemerintah tengah menyiapkan pembentukan klaster ekonomi regional. Menurut Airlangga, penyusunan konsep tersebut akan melibatkan Kementerian PPN/Bappenas, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Kementerian Dalam Negeri.

”Mungkin dalam satu-dua minggu ini kita kick off bagaimana membangun regional,” kata Airlangga.

Klaster ekonomi regional diharapkan dapat menghubungkan potensi produksi, investasi, infrastruktur, pembiayaan, dan pasar antardaerah.

Melalui pendekatan tersebut, pemerintah juga berupaya mendorong kolaborasi antarwilayah agar pengembangan industri tidak berjalan sendiri-sendiri. Daerah dapat mengoptimalkan keunggulan masing-masing sekaligus membangun rantai pasok yang saling mendukung.

Peluang Ekspor Indonesia Masih Terbuka

Di tengah tantangan persaingan manufaktur, pemerintah melihat peluang peningkatan ekspor di sejumlah pasar utama. Airlangga menyampaikan neraca perdagangan Indonesia pada Januari hingga Agustus mencatat surplus sebesar 7,25 miliar dolar AS.

Pemetaan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, menurut Airlangga, menunjukkan potensi export gap sebesar 31 miliar dolar AS di China, 14 miliar dolar AS di Amerika Serikat, 10 miliar dolar AS di India, dan 5,5 miliar dolar AS di Jepang.

”Pemetaan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan ekspor tidak hanya perlu dilakukan melalui pencarian pasar baru. Kami juga ingin memperdalam pasar yang selama ini telah menjadi tujuan ekspor Indonesia,” jelasnya.

Potensi tersebut dapat dimanfaatkan oleh industri mesin, elektronik, dan berbagai produk manufaktur lainnya untuk memperluas pasar internasional.

Namun, nilai export gap merupakan gambaran peluang perdagangan, bukan jaminan bahwa seluruh permintaan tersebut dapat dipenuhi eksportir Indonesia. Pelaku usaha tetap perlu meningkatkan kapasitas produksi, kualitas barang, sertifikasi, efisiensi biaya, dan kepastian pasokan.

Digitalisasi dan AI Didorong untuk Industri

Pemerintah turut mendorong penguatan ekonomi digital melalui usulan Digital Economy Framework Agreement (DEFA) di tingkat ASEAN. Kesepakatan ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem perdagangan digital di kawasan.

Airlangga menilai besarnya pasar domestik Indonesia, dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa, merupakan modal untuk mengembangkan industri berbasis teknologi, termasuk kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).

”Kita bicara mengenai kesehatan saja, kita punya BPJS Ketenagakerjaan, datanya ada 90 juta lebih. Nah dari situ kita bisa mendorong industri yang berbasis kesehatan dan AI akan sangat membantu,” tutup Airlangga.

Pemanfaatan AI dan teknologi digital berpotensi meningkatkan produktivitas industri, termasuk melalui otomatisasi proses, pengolahan data, dan peningkatan efisiensi operasional.

Namun, pengembangannya membutuhkan dukungan infrastruktur digital, tenaga kerja terampil, investasi riset, serta kepastian regulasi agar manfaat teknologi dapat dirasakan oleh industri dalam negeri.

Persaingan dengan Vietnam dan Malaysia pada akhirnya menuntut Indonesia memperkuat berbagai aspek secara bersamaan, mulai dari kebijakan perdagangan dan investasi hingga infrastruktur, teknologi, dan kualitas sumber daya manusia.

Keberhasilan transformasi industri perlu terlihat dari peningkatan ekspor bernilai tambah, masuknya investasi produktif, terciptanya pekerjaan berkualitas, serta meningkatnya kemampuan perusahaan lokal memasok kebutuhan industri global.

F
FitrianiEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update