Jagoi Babang Didorong Jadi Pusat Ekspor Kalbar, Petai Tembus 306,8 Ton ke Malaysia
infokayong.com – Kawasan perbatasan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, terus didorong menjadi salah satu pusat perdagangan dan ekspor komoditas unggulan daerah ke Malaysia.
Kepala Kantor Bea Cukai Jagoi Babang Arman Tarmidzi mengatakan, Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Jagoi Babang memiliki posisi strategis sebagai pintu perdagangan internasional sekaligus penggerak ekonomi masyarakat di kawasan perbatasan.
Menurutnya, aktivitas ekspor yang semakin berkembang menunjukkan produk lokal Kalimantan Barat mulai memiliki peluang lebih besar untuk menembus pasar internasional.
Salah satu komoditas yang telah diekspor melalui Jagoi Babang adalah petai. Sepanjang semester I 2026, volume ekspor petai tercatat mencapai 306,8 ton dengan nilai sekitar Rp3,11 miliar.
“Bea Cukai memandang PLBN Jagoi Babang secara positif sebagai pintu strategis perdagangan internasional Kalimantan Barat serta sebagai pusat pengembangan ekonomi masyarakat perbatasan, bukan sekadar pos lintas batas,” ujar Arman di Bengkayang, Selasa (6/10).
Petani dan UMKM Didorong Masuk Pasar Ekspor
Bea Cukai tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan lalu lintas barang di kawasan perbatasan. Instansi tersebut juga memberikan pendampingan kepada petani, UMKM, dan pelaku usaha yang ingin memahami prosedur ekspor.
Arman mengatakan pendampingan diperlukan agar semakin banyak produk masyarakat dapat dipasarkan ke luar negeri melalui jalur perdagangan resmi.
“Bea Cukai juga berperan sebagai fasilitator perdagangan dengan membantu petani, UMKM dan pelaku usaha memahami prosedur ekspor,” katanya.
Dengan demikian, keberadaan PLBN Jagoi Babang diharapkan tidak hanya mempermudah mobilitas orang dan barang, tetapi juga membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk lokal.
Layanan Ekspor Menggunakan Sistem Digital
Di tengah meningkatnya aktivitas perdagangan, Bea Cukai memastikan pelayanan kepabeanan di PLBN Jagoi Babang masih mampu menangani kegiatan ekspor.
Dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) diproses secara elektronik melalui sistem CEISA 4.0. Sementara pemeriksaan fisik dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan manajemen risiko.
Meski demikian, peningkatan volume perdagangan tetap perlu diimbangi dengan penguatan fasilitas. Beberapa kebutuhan yang menjadi perhatian antara lain area pemeriksaan, tempat parkir kendaraan ekspor, kestabilan jaringan internet, serta kesiapan sumber daya manusia.
Jagoi Babang Punya Potensi Besar
Arman menilai pengembangan Jagoi Babang sebagai pusat perdagangan internasional membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari konektivitas, fasilitas perdagangan hingga koordinasi antarlembaga.
Pengawasan terhadap jalur perlintasan tidak resmi juga dinilai penting agar aktivitas perdagangan dapat berlangsung secara aman dan sesuai aturan.
“Kami berharap Jagoi Babang dapat berkembang menjadi pusat ekspor komoditas unggulan Kalimantan Barat secara berkelanjutan, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperluas akses produk lokal ke pasar internasional,” ujarnya.
Dengan potensi tersebut, kawasan perbatasan Jagoi Babang berpeluang memainkan peran yang semakin besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat sekaligus membuka pasar internasional bagi produk masyarakat.
