Kamis, 29 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Beranda › Daerah
Daerah

Karhutla Ketapang Rusak Habitat Orangutan, Lusi dan Tiga Satwa Dievakuasi

✍️ Fitriani 🕒 21 Oct 2026 👁️ 3x dibaca
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, berdampak terhadap kelangsungan hidup orangutan yang kehilangan habitat dan sumber makanan. Salah satunya Lusi, orangutan remaja betina yang ditemukan dalam kondisi kurus, dehidrasi, stres, dan mengalami sejumlah luka.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, berdampak terhadap kelangsungan hidup orangutan yang kehilangan habitat dan sumber makanan. Salah satunya Lusi, orangutan remaja betina yang ditemukan dalam kondisi kurus, dehidrasi, stres, dan mengalami sejumlah luka. Foto: istimewa

infokayong.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, berdampak terhadap kelangsungan hidup orangutan yang kehilangan habitat dan sumber makanan. Salah satunya Lusi, orangutan remaja betina yang ditemukan dalam kondisi kurus, dehidrasi, stres, dan mengalami sejumlah luka.

Lusi ditemukan di kawasan bernilai konservasi tinggi atau High Conservation Value (HCV) di perkebunan kelapa sawit PT KALE, Desa Laman Satong. Kondisinya menunjukkan beratnya dampak kebakaran terhadap satwa liar yang bertahan di habitatnya.

CEO Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) sekaligus dokter hewan satwa liar, Karmele Llano Sanchez, mengatakan Lusi mengalami tekanan akibat kondisi hutan yang rusak dan diduga kesulitan mendapatkan makanan.

“Orangutan Lusi terlihat sangat stres dan sangat kurus. Mungkin sudah berapa hari tidak dapat makanan apa pun di hutan yang sudah hancur ini,” ujar Karmele.

Pemeriksaan awal menemukan luka gores di sejumlah bagian tubuh Lusi. Ia juga mengalami luka terbuka pada punggung, bibir, dan anus yang diduga akibat gigitan satwa. Setelah dievakuasi, Lusi membutuhkan perawatan lanjutan di pusat rehabilitasi YIARI.

Selain Lusi, tim penyelamat menemukan orangutan remaja betina bernama Riri dalam kondisi ketakutan dan dehidrasi. Riri ditemukan sendirian di pohon kelapa sawit tanpa keberadaan induknya di sekitar lokasi.

“Kami merasa kasihan melihat anak orangutan sendirian tanpa induknya. Kami pun bertanya-tanya, ke mana induknya, sebab induk orangutan biasanya tidak meninggalkan anaknya. Kami sangat khawatir induknya mungkin sudah mati,” kata Karmele.

Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan YIARI juga menyelamatkan Mama Rian beserta anaknya, Rian. Keduanya ditemukan dalam kondisi sangat kurus di kebun warga Desa Riam Berasap, sekitar 1,5 kilometer dari kawasan perkebunan.

Keempat orangutan tersebut diselamatkan pada 10–16 Oktober 2026.

Sebanyak 51 Orangutan Dievakuasi

Dampak karhutla terhadap orangutan di Kalimantan Barat terlihat dari jumlah satwa yang harus dievakuasi. Berdasarkan data tim gabungan, sebanyak 51 orangutan telah diselamatkan dari wilayah terdampak kebakaran di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara sejak 6 Agustus hingga 10 Oktober 2026.

Dari jumlah tersebut, 30 orangutan berasal dari kawasan perkebunan PT KALE atau wilayah sekitarnya. Sebanyak 27 individu masih menjalani perawatan di pusat rehabilitasi YIARI karena kondisi kesehatannya kurang baik.

Ancaman terhadap satwa belum sepenuhnya berakhir. Tim penyelamat masih menemukan asap di sejumlah bagian kawasan HCV PT KALE, termasuk tanah yang dilaporkan masih mengeluarkan asap.

Kondisi tersebut membuat orangutan berisiko kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan, sekaligus menghadapi bahaya ketika bergerak di kawasan yang masih menyimpan panas dan bara.

“Dalam kondisi seperti ini, orangutan kehilangan tempat berlindung dan sumber pakan, sementara mereka masih harus bergerak di area yang berisiko karena panas dan sisa bara,” ujar Karmele.

Lebih dari 90 Persen Kawasan Konservasi Dilaporkan Terbakar

Analisis citra satelit untuk periode 1 Agustus hingga 25 September 2026 menunjukkan lebih dari 90 persen kawasan HCV PT KALE dilaporkan terbakar.

Menurut publikasi YIARI yang merujuk pada penelitian ilmiah tahun 2016, kawasan tersebut sebelumnya diperkirakan menjadi habitat sekitar 150 orangutan.

Kerusakan habitat berpotensi mendorong orangutan keluar dari kawasan hutan untuk mencari makanan. Dalam sejumlah kejadian, satwa tersebut dilaporkan memasuki kebun warga ketika sumber pakan di habitatnya berkurang.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menjelaskan bahwa pergerakan orangutan tidak dibatasi oleh batas administratif wilayah.

“Orangutan tidak mengenal batas administrasi. Mereka bergerak berdasarkan kebutuhan biologis, yaitu kebutuhan pakan, bersarang, dan menjelajah,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya perlindungan kawasan konservasi, pemeliharaan koridor satwa, serta penanaman pohon lokal yang dapat menjadi sumber makanan orangutan.

Masyarakat yang menemukan orangutan di sekitar permukiman atau kebun juga diimbau berkoordinasi dengan petugas konservasi agar penanganan dapat dilakukan dengan aman.

Pemulihan Habitat Jadi Perhatian

YIARI mendorong pemulihan kawasan HCV yang terbakar agar dapat kembali mendukung kehidupan satwa liar. Restorasi habitat dinilai penting untuk membantu menyediakan tempat berlindung dan sumber makanan bagi orangutan dalam jangka panjang.

Hingga informasi dalam laporan sumber disusun, tanggapan PT KALE terkait kritik mengenai penanganan karhutla dan perlindungan habitat masih perlu dimintakan.

Kasus Lusi, Riri, Mama Rian, dan Rian memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti ketika api mulai padam. Kerusakan habitat dapat membuat satwa kehilangan sumber penghidupan dan meningkatkan risiko konflik dengan manusia.

Karena itu, upaya penanganan karhutla perlu disertai perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi dan pemulihan ekosistem agar keberlangsungan hidup orangutan di Kalimantan Barat tetap terjaga.

F
FitrianiEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update