Kamis, 29 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Beranda › Teknologi
Teknologi

Mahasiswa Undip Ciptakan Cyroach, Robot Kecoak untuk Bantu Cari Korban Bencana

✍️ Fitriani 🕒 06 Oct 2026 👁️ 6x dibaca
Cyroach, Robot Kecoak Undip Pencari Korban Bencana
Cyroach, Robot Kecoak Undip Pencari Korban Bencana Foto: istimewa

infokayong.com – Sembilan mahasiswa Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip) mengembangkan teknologi robot biohybrid bernama Cyroach yang memanfaatkan kemampuan alami kecoak Madagaskar untuk membantu pencarian korban di lokasi bencana.

Inovasi tersebut dirancang agar dapat memasuki celah-celah sempit di antara reruntuhan yang sulit dijangkau manusia maupun robot konvensional.

Cyroach dilengkapi sejumlah perangkat elektronik, mulai dari mikrokontroler ESP32-C6, sensor jarak, inertial measurement unit (IMU), kamera termal, mikrofon hingga modul komunikasi.

Perangkat tersebut dipasang pada tubuh kecoak menggunakan elektroda tipis yang terhubung dengan bagian antena dan cerci. Rangsangan listrik berintensitas rendah digunakan untuk membantu mengarahkan pergerakan kecoak ke kanan, kiri maupun lurus.

Kamera termal menjadi salah satu komponen penting karena dapat membantu mendeteksi sumber panas yang diduga berasal dari tubuh manusia. Sementara itu, mikrofon digunakan untuk menangkap suara di sekitar lokasi, termasuk kemungkinan suara korban.

Pemimpin Tim Cyborg Insect Undip, Muhammad Faizul Kirom, mengatakan seluruh informasi yang dikumpulkan perangkat dapat dikirim secara langsung ke aplikasi sehingga operator tidak perlu masuk terlebih dahulu ke area berbahaya.

“Seluruh informasi itu lalu dikirim secara real time ke aplikasi sehingga operator dapat memantau pergerakan Cyroach tanpa harus langsung masuk ke lokasi berbahaya,” kata Faizul.

Terinspirasi Pencarian Korban di Reruntuhan

Gagasan Cyroach muncul setelah tim melihat persoalan dalam proses pencarian korban di area reruntuhan. Robot beroda maupun drone memiliki keterbatasan ketika harus memasuki ruang yang sangat sempit.

Kondisi tersebut kemudian mendorong mahasiswa Undip memanfaatkan kemampuan alami kecoak yang memang mampu bergerak melalui celah kecil.

“Nah, di sinilah ide kami muncul untuk memanfaatkan kecoak sebagai biohybrid robot. Karena secara alami dia sudah punya kemampuan masuk ke celah sempit yang enggak bisa dijangkau sama robot biasa,” ujar Faizul.

Berbeda dengan robot mekanis yang meniru bentuk kecoak, Cyroach justru menggunakan kecoak hidup sebagai penggerak. Sistem elektronik kemudian berfungsi untuk membantu navigasi, pengindraan dan komunikasi.

Jenis kecoak yang digunakan adalah kecoak Madagaskar jantan. Selama sekitar satu tahun penelitian, tim telah menggunakan sekitar 20 ekor dan menghasilkan lima unit Cyroach sebagai prototipe.

Menurut Faizul, serangga tersebut mampu membawa perangkat dengan berat maksimal sekitar 15 gram. Karena itu, setiap komponen harus dirancang seringan mungkin agar tidak membebani tubuh kecoak.

Kendala Pengembangan Cyroach

Pemanfaatan organisme hidup membuat pengembangan Cyroach memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan robot biasa.

Respons setiap kecoak tidak selalu sama sehingga kendali arah belum dapat dilakukan dengan tingkat presisi seperti robot mekanis. Tim juga harus menyesuaikan sistem elektronik dengan kemampuan fisik serangga.

Selain persoalan teknis, aspek kesejahteraan hewan juga menjadi perhatian. Sebelum pemasangan elektroda, kecoak dianestesi menggunakan gas CO2 untuk mengurangi potensi perlakuan yang dapat menyakitinya.

Tim menyebut tidak ada kecoak yang mati selama proses penelitian berlangsung.

Raih Penghargaan di Malaysia

Meski masih berupa prototipe, Cyroach telah memperoleh penghargaan di tingkat internasional.

Inovasi mahasiswa Undip tersebut meraih Gold Medal dan Special Award dalam Malaysia Technology Expo (MTE) 2026.

Tim kemudian membawa hasil penelitian tersebut ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mendapatkan masukan terkait kebutuhan teknologi dalam operasi pencarian dan pertolongan.

BNPB juga menawarkan lokasi yang dapat digunakan untuk pengujian lanjutan dengan kondisi yang menyerupai lingkungan reruntuhan.

Namun, Cyroach masih membutuhkan pengembangan sebelum dapat digunakan dalam operasi SAR sebenarnya. Tim masih perlu meningkatkan presisi kendali, memperkecil perangkat, menyempurnakan sensor serta menguji sistem komunikasi pada kondisi yang lebih kompleks.

“Bagi kami yang statusnya masih mahasiswa, riset satu tahun masih kurang. Kami masih punya target untuk pengoptimalan prototipe ke depannya,” kata Faizul.

F
FitrianiEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update