Kamis, 29 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Beranda › Daerah
Daerah

Mengenal Sosok Handi: Dedikasi Menyelamatkan Satwa Langka dari Hutan yang Terbakar

✍️ Fitriani 🕒 20 Oct 2026 👁️ 2x dibaca
Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah II Pangkalan Bun, Handi Nasoka.
Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah II Pangkalan Bun, Handi Nasoka. Foto: istimewa

PONTIANAK — Di balik pekatnya kabut asap yang menyelimuti kawasan hutan dan ancaman lidah api yang siap melahap apa saja, seorang pria bernama Handi terus melangkah tanpa ragu. Dengan peralatan evakuasi seadanya dan keteguhan hati, Handi mendedikasikan hidupnya sebagai salah satu garda terdepan dalam penyelamatan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang terjebak dalam bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Bagi Handi, setiap detik di lapangan adalah pertaruhan antara hidup dan mati, bukan hanya bagi dirinya sendiri, melainkan bagi kelangsungan hidup satwa endemik yang kian terancam punah tersebut.

Ketika peristiwa Karhutla melanda kawasan hutan tropis, habitat alami orangutan hancur dalam hitungan jam. Pohon-pohon besar yang menjadi tempat mereka mencari makan, bersarang, dan berlindung berubah menjadi arang dan abu. Dalam kondisi yang sangat kritis ini, tim evakuasi yang dipimpin oleh Handi bergerak cepat menerobos medan yang ekstrem. Suhu udara yang melonjak drastis, jarak pandang yang terbatas akibat asap pekat, serta ancaman robohnya pohon-pohon tua yang terbakar menjadi makanan sehari-hari yang harus dihadapi Handi dan rekannya selama masa krisis tersebut.

Proses penyelamatan orangutan di lokasi kebakaran bukanlah pekerjaan yang mudah dan sederhana. Handi menjelaskan bahwa orangutan yang panik akibat dikepung asap dan kobaran api memiliki perilaku yang sangat tidak terduga. Satwa yang biasanya menghindari manusia tersebut kerap berada dalam kondisi stres berat, dehidrasi, hingga mengalami gangguan pernapasan akibat terpapar asap tebal dalam jangka waktu lama. Sering kali, orangutan bertahan di puncak pohon terdingin yang tersisa, enggan turun karena tanah di bawah mereka telah berubah menjadi hamparan bara api yang membara.

Dalam memimpin aksi penyelamatan di tengah kepungan Karhutla, Handi dan tim harus menerapkan prosedur ketat agar tidak membahayakan keselamatan satwa maupun anggota tim. Tahap awal dimobilisasi dengan melakukan pemetaan area menggunakan teropong serta melacak jejak keberadaan satwa di sekitar titik api. Setelah posisi orangutan dipastikan, tim penembak obat bius akan bersiap di posisi yang aman. Proses pembiusan ini membutuhkan presisi yang sangat tinggi; dosis harus disesuaikan secara akurat dengan perkiraan berat badan satwa agar orangutan tidak mengalami komplikasi medis di tengah hutan.

Saat obat bius mulai bereaksi dan membuat orangutan melemah, tim di bawah pimpinan Handi akan membentangkan jaring penyelamat (rescue net) di bawah pohon. Koordinasi antaranggota tim menjadi kunci utama pada momen kritis ini agar satwa yang jatuh tidak menghantam tanah secara keras. Setelah berhasil ditangkap dengan jaring, satwa tersebut langsung mendapatkan penanganan medis darurat di tempat. Tim dokter hewan yang menyertai Handi akan segera memeriksa detak jantung, kondisi pernapasan, serta mengobati luka bakar atau cedera fisik yang dialami satwa sebelum dievakuasi ke pusat rehabilitasi.

Dampak buruk bencana Karhutla tidak hanya berhenti pada kerusakan fisik habitat semata, tetapi juga memicu konflik baru antara manusia dan satwa liar. Hutan yang terkelupas habis akibat terbakar memaksa orangutan yang selamat untuk keluar dari area konservasi dan masuk ke kawasan pemukiman atau perkebunan warga guna mencari sumber makanan yang tersisa. Situasi ini kerap memicu kepanikan warga lokal yang belum memahami cara berinteraksi dengan primata besar tersebut, sehingga risiko perburuan liar maupun tindakan anarkis terhadap orangutan meningkat tajam selama musim kemarau.

Menghadapi tantangan kompleks ini, Handi tidak hanya fokus pada aksi evakuasi fisik di lapangan, melainkan juga aktif melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat di sekitar pinggiran hutan. Ia mengimbau warga agar segera melaporkan ke pihak berwajib atau tim konservasi jika menemukan orangutan yang berkeliaran di dekat pemukiman, bukannya melukai atau menangkapnya secara ilegal. Menurut Handi, keterlibatan aktif masyarakat lokal merupakan benteng pertahanan terakhir dalam menjaga kelestarian orangutan dari ancaman kepunahan.

Pengalaman bertahun-tahun bergelut dengan lumpur, asap, dan kepungan api telah menempa mental Handi menjadi pribadi yang tangguh. Meskipun tugas yang diembannya penuh dengan penderitaan fisik dan risiko keselamatan jiwa, kepuasan emosional terbesarnya adalah saat melihat orangutan yang berhasil diselamatkan kembali pulih dan berkesempatan untuk dilepasliarkan ke hutan yang lebih aman. Perjuangan Handi menjadi pengingat nyata bagi semua pihak bahwa penyelamatan satwa liar di tengah ancaman Karhutla bukan sekadar tugas profesi, melainkan bentuk panggilan kemanusiaan untuk menjaga keseimbangan ekosistem bumi demi masa depan bersama.

F
FitrianiEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update