Kamis, 29 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Beranda › Daerah
Daerah

Operasi Pemadaman Karhutla Taman Nasional Tanjung Puting Ditingkatkan Melalui Pengeboman Air

✍️ Fitriani 🕒 19 Oct 2026 👁️ 2x dibaca
Operasi Water Bombing di Taman Nasional Tanjung Puting
Operasi Water Bombing di Taman Nasional Tanjung Puting Foto: detik.com

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengambil langkah agresif untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerpa kawasan konservasi vital Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) di Kalimantan Tengah. Intensitas penyiraman air dari udara atau water bombing ditingkatkan secara signifikan guna memadamkan kobaran api yang mengancam ekosistem serta habitat flora dan fauna dilindungi. Penanganan difokuskan pada sektor-sektor yang rawan ledakan titik panas (hotspot), di mana pemadaman jalur udara menjadi tumpuan utama penanggulangan bencana ekologis ini.

Peningkatan volume pemadaman udara tersebut tercatat melonjak tajam dalam durasi waktu 24 jam. Apabila pada hari sebelumnya pengeboman air hanya menjangkau belasan kali rute penyiraman, angka tersebut mendadak melonjak hingga puluhan kali penyiraman yang menyasar titik-titik krusial kebakaran, khususnya di kawasan wilayah Sungai Perlu serta Teluk Rengas.

Penguatan operasi penyiraman udara ini dikonfirmasi secara langsung oleh pimpinan kementerian. Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengungkapkan perkembangan terbaru terkait pengerjaan penyiraman titik api di kawasan konservasi tersebut.

“Water bombing di Tanjung Puting, kemarin 16 water bombing, hari ini sementara 26 water bombing,” ujar Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni melalui akun Instagram pribadinya @rajaantoni, Minggu, 18 Oktober 2026.

Peningkatan frekuensi penyiraman tersebut membuktikan bahwa konsentrasi penanganan karhutla di Kalimantan Tengah menjadi prioritas terdepan di tingkat nasional. Mengingat lonjakan jumlah titik panas berkepercayaan tinggi (high confidence) cukup masif di pulau Kalimantan, penyiraman air secara kontinu dialokasikan untuk memutus rantai perambatan api agar tidak merembet meluas ke zona inti taman nasional.

Meskipun armada udara terus dikerahkan, pelaksanaan pemadaman water bombing dilaporkan tidak berjalan tanpa hambatan. Kendala teknis penerbangan akibat kabut asap pekat sempat menjadi batu sandungan yang cukup serius bagi tim Satgas Udara.

Jarak pandang (visibility) yang sangat terbatas di sekitar wilayah ibu kota provinsi, khususnya area Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, membuat beberapa armada helikopter pemadam tidak dapat mengudara sesuai jadwal. Kondisi bahaya penerbangan ini memaksa otoritas terkait untuk memutar otak dan mencari pangkalan alternatif.

Solusi taktis akhirnya ditemukan dengan memindahkan konsentrasi pangkalan penerbangan menuju pendaratan atau bandara lokal yang memiliki tingkat kebersihan udara lebih baik. Pangkalan udara di wilayah Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, dipilih sebagai hub operasional baru. Langkah pemindahan ini terbukti efektif karena helikopter pemadam milik pihak swasta maupun perbantuan armada udara tambahan dari TNI Angkatan Udara serta armada milik Kementerian Kehutanan dapat lepas landas dan melakukan pengisian air secara berulang tanpa terhalang jarak pandang.

Menhut menegaskan bahwa segala opsi sumber daya udara dan darat terus dipadukan demi melumpuhkan kobaran api.

“Segala daya upaya terus diikhtiarkan termasuk mempertebal pasukan darat,” ujar Menhut Raja Antoni.

Di samping gempuran dari udara, perjuangan memadamkan api di permukaan tanah bergerak tak kalah sengit. Tim gabungan darat terus merangsek masuk ke zona-zona sulit untuk melokalisasi kobaran api yang menjalar di atas permukaan maupun dalam gumpalan lahan gambut.

Fokus penanganan darat terbagi di beberapa sektor vital, di antaranya wilayah Resor Pesalat dan Teluk Pulai. Di lokasi-lokasi tersebut, ratusan personel dari berbagai unsur bahu-membahu menembus hutan.

Direktur Konservasi Kawasan, Sapto Aji Prabowo, memaparkan bahwa pemadaman darat melibatkan kolaborasi lintas instansi dan masyarakat relawan. Kelengkapan peralatan seperti mesin pompa apung, pompa jinjing, selang pemadam bertekanan tinggi, hingga unit mini strike dikerahkan maksimal ke ceruk-ceruk hutan.

“Resor Pesalat dan Teluk Pulai, tim darat gabungan (TNTP, Manggala Agni, BKO Kemenhut, TNI, Polri, BPBD dan Relawan) terus memaksimalkan upaya pemadaman bersumber dari air sungai dan sumur bor,” jelas Sapto.

Pemanfaatan alir air alami dari sungai sekitar serta pembuatan sumur-sumur bor darurat menjadi kunci pasokan air bagi pasukan darat. Hal ini meminimalisir keterlambatan pasokan air akibat medan hutan yang sulit dijangkau oleh kendaraan tangki.

Dengan penggabungan taktik penyiraman masif dari udara (water bombing) dan penyekatan bertahap oleh Satgas Darat, diharapkan ancaman karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting dapat segera terkendali sepenuhnya guna menyelamatkan keanekaragaman hayati Indonesia.

F
FitrianiEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update