Kamis, 29 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Beranda › Daerah
Daerah

Tak Sekadar Pesta Budaya, Peringatan HUT ke-27 Kabupaten Malinau Diwarnai Doa Serentak untuk Karhutla

✍️ Fitriani 🕒 17 Oct 2026 👁️ 6x dibaca
Sekda Malinau sekaligus Ketua Panitia Irau Malinau 2026, Ernes Silvanus
Sekda Malinau sekaligus Ketua Panitia Irau Malinau 2026, Ernes Silvanus Foto: detik.com

MALINAU — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Malinau sekaligus ajang Festival Budaya Irau ke-12 tahun 2026 tidak hanya dikemas sebagai pesta rakyat dan ajang pelestarian seni tradisi. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malinau secara resmi mengintegrasikan aksi kepedulian sosial berupa doa bersama lintas agama guna memohon perlindungan dari musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang saat ini tengah melanda berbagai wilayah di Kalimantan maupun Indonesia.

Langkah tersebut diambil sebagai bentuk kepekaan serta solidaritas daerah di tengah situasi darurat lingkungan yang memprihatinkan. Pelaksanaan doa bersama ini dirancang berlangsung secara maraton selama tujuh hari penuh sepanjang jalannya festival budaya terbesar di Bumi Intimung tersebut.

Penyelipan Doa Lintas Agama dalam Sesi Pembukaan dan Penutupan Acara

Guna memastikan pesan spiritual dan kepedulian sosial tersampaikan secara intensif kepada seluruh masyarakat dan pengunjung, pihak panitia penyelenggara mengatur tata cara teknis penyampaian doa. Doa bersama ini dipimpin oleh para pemuka dari berbagai agama secara bergantian pada setiap agenda kegiatan.

Sekretaris Daerah (Sekda) Malinau yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia Irau Malinau 2026, Ernes Silvanus, menjelaskan bahwa materi doa keselamatan tersebut dimasukkan ke dalam rangkaian resmi seremonial harian. Para pembawa doa yang ditunjuk akan memanjatkan permohonan secara khusus baik di awal pembukaan maupun di penghujung acara harian festival.

Pendekatan ini dipilih agar seluruh elemen masyarakat dari berbagai latar belakang keyakinan dapat bersatu dalam niat yang sama, yakni memohon agar bencana asap dan kobaran api karhutla yang merusak ekosistem serta mengganggu kesehatan publik bisa segera teratasi.

Pernyataan Resmi Sekda Malinau: Budaya, Inovasi, dan Kepedulian Bangsa

Dalam keterangannya mengenai makna perayaan di tengah ancaman bencana ekologis, Sekda Malinau Ernes Silvanus menekankan bahwa gelaran pesta budaya tahun ini memiliki dimensi yang jauh lebih dalam dibanding tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, perayaan daerah tidak boleh berjarak dari realitas sosial dan bencana yang sedang dihadapi oleh masyarakat luas.

Ia secara tegas menyatakan komitmen moral daerah melalui keterangannya:

"HUT ini bukanlah hanya sekadar tentang bagaimana berkarya, kemudian berinovasi dalam rangka budaya bangsa, tapi juga menjadi ajang kepedulian bangsa dan negara terutama masyarakat Malinau menyikapi situasi kondisi saat ini," tutup Ernes.

Pernyataan tersebut mencerminkan komitmen Pemkab Malinau untuk menyelaraskan euforia perayaan ulang tahun daerah dengan rasa empati terhadap daerah-daerah tetangga maupun wilayah Malinau sendiri yang rentan terhadap dampak karhutla.

Konteks Kebakaran Hutan dan Kepungan Kabut Asap di Kalimantan

Keputusan memasukkan agenda doa lintas agama dalam momen sakral puncak perayaan daerah ini bertepatan dengan meningkatnya kemunculan titik panas (hotspot) di wilayah pulau Kalimantan. Bencana karhutla telah memicu ancaman kabut asap tebal yang membahayakan kualitas udara, merusak sektor transportasi, hingga mengganggu aktivitas perekonomian dan kesehatan masyarakat.

Meskipun Festival Irau menyedot perhatian puluhan ribu pengunjung dan puluhan paguyuban adat, Pemkab Malinau menilai penting untuk tidak melupakan mitigasi bencana, baik secara teknis penanganan di lapangan maupun ikhtiar spiritual melalui doa. Kesadaran akan tingginya risiko kebakaran di musim kemarau mendorong pemerintah daerah mengimbau seluruh lapisan warga agar tetap waspada dan tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan.

Festival Irau ke-12: Ajang Kebinekaan yang Syarat Nilai Humanis

Festival Irau Malinau sendiri dikenal sebagai panggung kebudayaan megah yang menampilkan kekayaan seni, tari-tarian tradisional, pameran UMKM, hingga adat istiadat dari belasan suku asli dan paguyuban nusantara yang menetap di Kabupaten Malinau. Event ini diselenggarakan secara berkala dan menjadi salah satu kalender wisata budaya unggulan di Kalimantan Utara.

Pada pelaksanaan Irau ke-12 dan HUT ke-27 ini, Pemkab Malinau berharap pesan solidaritas dan kepedulian lingkungan dapat terpancar kuat. Melalui integrasi ritual doa lintas agama selama satu minggu, pesta budaya tidak hanya menjadi ajang unjuk kebolehan seni dan tradisi lokal, tetapi juga manifestasi nyata dari nilai gotong royong dan rasa kemanusiaan masyarakat Malinau terhadap ujian bencana alam di tanah air.

F
FitrianiEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update