TBS Sawit Menumpuk, Petani Pulau Maya Minta Pabrik Mini di Kayong Utara
infokayong.com – Petani kelapa sawit di Kecamatan Pulau Maya, Kabupaten Kayong Utara, menghadapi kendala pemasaran tandan buah segar (TBS) akibat keterbatasan kapasitas pengolahan di Pabrik PT KAP, Kecamatan Seponti. Kondisi ini mendorong munculnya desakan agar pemerintah dan investor mempertimbangkan pembangunan pabrik pengolahan sawit tambahan.
Melimpahnya pasokan TBS yang masuk ke pabrik dinilai belum sebanding dengan kapasitas pengolahan yang tersedia. Akibatnya, hasil panen berisiko menumpuk dan berdampak pada kelancaran penjualan serta harga yang diterima petani.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kayong Utara, Alias Syahroni, mengatakan penambahan fasilitas pengolahan sawit, setidaknya dalam skala mini, dibutuhkan untuk mengimbangi peningkatan produksi perkebunan masyarakat.
Menurutnya, kapasitas pabrik yang tersedia saat ini belum mampu menampung pasokan dari sejumlah kecamatan, termasuk Seponti, Teluk Batang, dan Pulau Maya.
"Saya, sebagai perwakilan masyarakat Kecamatan Pulau Maya, sangat berharap agar ada penambahan pembangunan pabrik, minimal pabrik mini. Kapasitas yang ada di PT KAP sendiri ini sangat tidak mampu untuk meng-cover baik di Kecamatan Sponti, Teluk Batang, apalagi untuk daerah Kecamatan Pulau Maya," ungkap Alias Syahroni.
Ia menjelaskan, meningkatnya produksi sawit di Pulau Maya berkaitan dengan perubahan komoditas perkebunan masyarakat. Jika sebelumnya banyak warga mengandalkan perkebunan kelapa, kini sebagian mulai beralih ke kelapa sawit.
Peralihan tersebut membuat produksi TBS terus meningkat. Namun, pertumbuhan hasil perkebunan belum diikuti ketersediaan fasilitas pengolahan yang memadai sehingga petani masih bergantung pada pabrik yang ada.
Potongan Sortasi Ikut Dikeluhkan Petani
Persoalan pemasaran juga dirasakan Supono, warga Trans Kamboja SP 1. Ia menilai ketergantungan terhadap satu pabrik membuat petani memiliki pilihan terbatas untuk menjual hasil panen dengan harga yang lebih menguntungkan.
Selain keterbatasan daya tampung, Supono menyoroti potongan atau sortasi TBS yang diberlakukan PT KAP. Menurutnya, besarnya potongan tersebut turut memengaruhi pendapatan yang diterima petani.
Ia menyebut potongan hasil panen mencapai sekitar 13 persen dari total berat TBS yang dikirim. Komponen potongan meliputi buah busuk, buah yang terlalu lama disimpan atau restan, tangkai panjang, serta sampah yang terbawa dalam hasil panen.
Kondisi ini menambah beban petani, terutama ketika pilihan tempat penjualan terbatas dan pasokan terus meningkat.
Bagi petani Pulau Maya dan wilayah sekitarnya, pembangunan pabrik pengolahan tambahan diharapkan dapat memperluas pilihan pemasaran, meningkatkan penyerapan hasil panen, serta menciptakan persaingan yang lebih sehat dalam pembelian TBS.
Dengan kapasitas pengolahan yang lebih memadai, hasil perkebunan masyarakat diharapkan dapat terserap lebih optimal dan memberikan dampak positif terhadap pendapatan petani sawit di Kabupaten Kayong Utara.
