Titik Api TNTP Mendekati Permukiman Desa Teluk Pulai, Tim Gabungan Berpacu dengan Waktu
KOTAWARINGIN BARAT — Ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, terus meluas hingga mendekati kawasan permukiman penduduk. Ratusan jiwa warga yang mendiami Desa Teluk Pulai, Kecamatan Kumai, kini berada dalam situasi waspada tinggi seiring bergeraknya lidah api yang kian mendekati area pemukiman mereka.
Upaya lokalisasi titik api terus dilakukan oleh tim pemadam gabungan bersama para relawan dan masyarakat setempat agar perambatan api tidak menyeberang ke area pemukiman. Kendati demikian,embusan angin kencang serta vegetasi lahan gambut yang kering menjadi tantangan berat yang membahayakan wilayah penyangga kawasan konservasi tersebut.
Api Tembus Sungai Buluh, Jarak Tinggal 4 Kilometer
Ancaman terbesar saat ini berpusat di sekitar aliran sungai yang mengelilingi kawasan TNTP. Kepala Desa Teluk Pulai, Herliyus Cristian, mengungkapkan bahwa sebaran api dari sektor kebakaran hutan kini terpantau sudah berada di ambang batas kawasan perairan.
"Kami berupaya keras agar api tidak merembet ke desa. Kebakaran sudah mendekati sungai, sementara jarak titik api ke desa kami sekitar empat kilometer," kata Herliyus, Rabu (21/10/2026).
Jarak empat kilometer dianggap sangat rawan dalam kondisi karhutla, sebab loncatan bara api (fly ash) yang terbawa angin kencang dapat dengan mudah memicu titik api baru di lahan gambut yang kering kering di sekitar permukiman. Jika kondisi iklim dan arah angin tidak berpihak, api berpotensi membakar vegetasi pembatas dan langsung menuju pemukiman warga Desa Teluk Pulai dalam waktu singkat.
Muncul Titik Api Baru dan Keterlibatan Relawan
Garis pertahanan pemadaman tidak hanya terfokus di satu lokasi. Berdasarkan pantauan lapangan, sebaran kebakaran hutan mengalami perluasan ke beberapa anak sungai lain yang menjadi benteng pertahanan ekosistem Tanjung Puting.
Kemunculan titik api baru di beberapa titik strategis memicu pengerahan personel tambahan. Tim pemadam kebakaran darat yang terdiri dari petugas Manggala Agni, BPBD, TNTP, serta unsur relawan masyarakat harus membagi kekuatan untuk menutup ruang gerak api.
"Kebakaran tidak hanya terjadi di Sungai Buluh Kecil. Titik api juga dilaporkan muncul di kawasan Sungai Buluh Besar. Sejumlah relawan turut diterjunkan untuk membantu pengendalian kebakaran di wilayah tersebut," katanya.
Kondisi medan yang didominasi oleh rawa gambut tebal dan rimbunnya belukar menjadi tantangan tersendiri bagi para petugas darat. Akses menuju titik api di Sungai Buluh Besar dan Sungai Buluh Kecil membutuhkan perjuangan ekstra, di mana tim sering kali harus menembus hutan melalui jalur perairan atau jalan setapak yang sulit dilalui alat berat pemadam.
Fokus Utama: Keselamatan Ratusan Warga dan Penyelamatan Ekosistem
Prioritas tertinggi seluruh pemangku kepentingan saat ini adalah memastikan keselamatan warga serta mencegah dampak kabut asap tebal memburuk. Kebakaran yang melalap kawasan konservasi TNTP tidak hanya mengancam ekosistem keanekaragaman hayati, termasuk habitat fauna yang dilindungi, tetapi juga secara langsung membahayakan kesehatan serta ruang hidup masyarakat lokal.
Ratusan jiwa warga Desa Teluk Pulai kini diliputi kecemasan. Selain ancaman langsung dari potensi jilatan api, kabut asap tebal hasil pembakaran hutan gambut mulai menurunkan kualitas udara dan mengganggu aktivitas ekonomi harian warga.
"Untuk saat ini, keselamatan warga menjadi perhatian utama. Warga berharap upaya pemadaman di Sungai Buluh Kecil dan Sungai Buluh Besar segera membuahkan hasil, terutama untuk mencegah api yang berjarak sekitar empat kilometer itu mencapai permukiman," pungkasnya.
Kondisi Geografis dan Tantangan Pemadaman di Lapangan
Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting merupakan salah satu suaka margasatwa terbesar yang didominasi oleh lahan gambut Dalam. Karakteristik utama dari kebakaran lahan gambut adalah api yang tidak hanya membakar permukaan atas (vegetasi dan ranting), tetapi juga meresap dan membakar lapisan bawah tanah hingga kedalaman beberapa meter. Hal ini membuat api sulit dipadamkan sepenuhnya hanya dengan pemadaman permukaan.
Petugas di lapangan sering kali harus melakukan penyiraman berulang kali pada titik yang sama guna memastikan tidak ada sisa bara api di bawah permukaan. Ketersediaan air dari sungai-sungai sekitar seperti Sungai Buluh Kecil dan Sungai Buluh Besar menjadi tumpuan utama sumber air mesin pompa pemadam. Namun, menyusutnya debit air sungai di musim kemarau menambah deretan hambatan operasi pemadaman di jalur darat.
Kerja sama intensif antara pemerintah daerah, instansi pengelola kawasan konservasi, TNI/Polri, serta partisipasi aktif warga desa dan relawan terus dipacu selama 24 jam. Pembuatan sekat bakar (firebreaks) di batas-batas terluar kawasan permukiman juga dipertimbangkan sebagai langkah antisipasi terakhir apabila jilatan api menyeberangi kawasan sungai.
Seluruh pihak kini berharap kondisi cuaca dapat membantu proses pemadaman, seraya memaksimalkan seluruh sumber daya yang ada agar bencana karhutla di TNTP tidak meluas dan tidak menelan korban di kawasan pemukiman warga Desa Teluk Pulai.
