Selasa, 03 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Beranda › Nasional
Nasional

Wamenaker Minta Anak Muda Kuasai Keterampilan Digital Hadapi Perubahan Dunia Kerja

✍️ Fitriani 🕒 02 Nov 2026 👁️ 2x dibaca
Wamenaker Ajak Generasi Muda Perkuat Kompetensi Hadapi Perubahan Dunia Kerja
Wamenaker Ajak Generasi Muda Perkuat Kompetensi Hadapi Perubahan Dunia Kerja Foto: istimewa

monitorkayong.com – Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), dan otomatisasi mengubah kebutuhan dunia kerja. Generasi muda pun didorong untuk terus meningkatkan kompetensi dan kemampuan beradaptasi agar tidak tertinggal dalam persaingan kerja.

Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Afriansyah Noor, mengatakan tantangan ketenagakerjaan saat ini bukan hanya menyangkut ketersediaan lapangan pekerjaan. Kesenjangan antara kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan dan kemampuan pencari kerja juga menjadi persoalan yang harus diatasi.

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Beyond Professional Youth Con 2026 bertema Beyond Work: What Happens When Your Profession Is No Longer Your Identity? di Jakarta, Sabtu (31/10/2026).

"Pendidikan harus diterjemahkan menjadi kompetensi, kompetensi menjadi produktivitas, dan produktivitas menjadi kesejahteraan," tegas Afriansyah.

Menurutnya, perubahan teknologi dan transformasi industri membuat sejumlah profesi mengalami pergeseran. Karena itu, tenaga kerja perlu memiliki keterampilan teknis atau hard skills sekaligus kemampuan nonteknis seperti komunikasi, kolaborasi, kedisiplinan, kreativitas, dan pemecahan masalah.

Sertifikasi kompetensi juga dinilai penting sebagai bukti formal bahwa kemampuan pekerja telah memenuhi standar yang dibutuhkan industri.

Untuk mendukung peningkatan kualitas tenaga kerja, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyediakan sejumlah program pengembangan kapasitas. Di antaranya pelatihan vokasi melalui Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP), program pemagangan, layanan SIAPkerja dan Karirhub, fasilitasi sertifikasi, serta pendampingan kewirausahaan melalui program Tenaga Kerja Mandiri (TKM).

Afriansyah turut menyoroti pentingnya menyiapkan tenaga kerja lokal sejak awal pembangunan fasilitas industri. Masa konstruksi yang umumnya berlangsung dua hingga empat tahun, menurutnya, dapat dimanfaatkan untuk melatih calon pekerja sesuai kebutuhan industri ketika mulai beroperasi.

"Jangan sampai fisiknya sudah berdiri, tetapi SDM-nya belum siap. Selama proses pembangunan industri berjalan, negara harus menyiapkan tenaga kerja yang dibutuhkan. Dengan begitu, ketika operasional dimulai, SDM Indonesia sudah menguasai kompetensi yang sesuai," ujarnya.

Ia juga mendorong agar proses pembangunan industri disertai alih pengetahuan dan teknologi dari tenaga kerja asing kepada pekerja domestik. Pendampingan tersebut diharapkan membuka kesempatan bagi tenaga kerja Indonesia untuk menguasai keahlian khusus dan mengisi posisi strategis.

Selain pekerjaan di sektor industri, perubahan dunia kerja juga memunculkan profesi baru, seperti kreator konten, pekerja lepas atau freelancer, serta pekerja berbasis platform digital.

Afriansyah menilai perkembangan tersebut perlu diimbangi pengakuan kompetensi, akses perlindungan sosial, dan pemenuhan hak-hak pekerja.

Ia pun mengajak generasi muda mengubah pola pikir dari sekadar mencari pekerjaan menjadi terus mengumpulkan dan mengembangkan keterampilan. Upaya itu dapat dilakukan dengan mengenali potensi diri, mempelajari keahlian pendukung, mengikuti sertifikasi, menjalani pemagangan, hingga terlibat dalam proyek kolaboratif.

"Jangan takut berganti profesi atau memulai perjalanan baru. Hal yang justru harus kita takuti adalah ketika dunia terus berubah, tetapi kita memilih berhenti belajar," pungkasnya.

F
FitrianiEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update