Harga Cabai Cakra di Pontianak Turun Jadi Rp96 Ribu per Kg
infokayong.com – Harga sejumlah kebutuhan pokok di Kota Pontianak terpantau relatif stabil. Salah satu komoditas yang mengalami penurunan cukup signifikan adalah cabai cakra di Pasar Flamboyan, yang kini dijual sekitar Rp96 ribu per kilogram setelah sebelumnya sempat menyentuh Rp150 ribu per kilogram.
Penurunan harga tersebut terungkap dalam pemantauan yang dilakukan Satuan Tugas (Satgas) Ketahanan Pangan Kota Pontianak di Pasar Flamboyan dan sejumlah supermarket, Kamis (29/10/2026).
Sekretaris Daerah Kota Pontianak, Amirullah, mengatakan secara umum ketersediaan bahan pangan masih mencukupi. Distribusi sejumlah komoditas juga berjalan lancar sehingga belum ditemukan persoalan berarti pada rantai pasok.
Menurutnya, harga cabai yang sebelumnya berada di kisaran Rp120 ribu per kilogram kini turun menjadi Rp86 ribu hingga Rp98 ribu per kilogram.
“Cabai tadi mengalami penurunan. Dari sekitar Rp120 ribu, sekarang ada yang Rp96 ribu, Rp98 ribu bahkan Rp86 ribu per kilogram. Penurunannya cukup besar, sekitar 20 persen,” ujar Amirullah.
Selain cabai, harga bawang juga menunjukkan kecenderungan menurun. Sementara itu, beberapa jenis ikan mengalami kenaikan tipis. Harga telur dan daging ayam relatif stabil dengan ketersediaan yang masih mencukupi.
Amirullah menyebut hasil wawancara dengan pedagang menunjukkan belum ada kendala berarti pada produksi maupun distribusi komoditas pangan.
“Berdasarkan wawancara dengan para pedagang, sejauh ini tidak ada persoalan dari sisi produksi maupun distribusi. Harga beberapa komoditas yang kita pantau juga relatif stabil,” katanya.
Harga Cabai Turun, Ikan Dipengaruhi Pasokan
Penurunan harga cabai juga dirasakan pedagang di Pasar Flamboyan. Sila, salah seorang pedagang cabai cakra, mengatakan harga komoditas tersebut terus bergerak turun dalam beberapa waktu terakhir.
Ia menyebut harga cabai sempat mencapai Rp150 ribu per kilogram sekitar dua bulan lalu. Setelah itu, harganya turun ke kisaran Rp120 ribu dan kini berada di sekitar Rp96 ribu per kilogram.
“Sekarang Rp96 ribu per kilogram. Paling mahal sempat Rp150 ribu per kilo dua bulan lalu,” kata Sila.
Cabai yang dijualnya didatangkan dari luar Kalimantan Barat. Meski harganya masih tergolong tinggi, permintaan tetap ada karena cabai menjadi salah satu bahan pangan yang banyak digunakan masyarakat.
Di sisi lain, harga ikan tongkol mengalami pergerakan mengikuti ketersediaan pasokan. Aditya, pedagang ikan di Pasar Flamboyan, mengatakan harga tongkol saat ini berkisar Rp38 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram.
“Kalau tongkol sekarang Rp45 ribu per kilo. Naik turunnya tergantung suplai, kosong atau tidak,” ujarnya.
Pemkot Perkuat Pengawasan Rantai Pasok
Untuk menjaga stabilitas harga, Pemerintah Kota Pontianak terus memantau perkembangan komoditas pangan, mulai dari tingkat produksi, distribusi, ketersediaan hingga harga jual di pasar.
Amirullah mengatakan pengawasan tersebut dilakukan secara rutin melalui agenda pemantauan bulanan, triwulanan maupun semesteran. Hasilnya menjadi bahan evaluasi pemerintah dalam menentukan langkah pengendalian.
Satgas Ketahanan Pangan juga berkoordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) agar kebutuhan pokok masyarakat tetap tersedia dengan harga yang terjangkau.
“Yang paling penting kebutuhan pokok masyarakat harus terjamin, tersedia, distribusinya lancar dan harganya tetap terjangkau,” jelasnya.
Pemerintah turut memberi perhatian terhadap komoditas yang mengalami perubahan harga cukup besar. Pemantauan melibatkan perangkat daerah yang menangani perdagangan, pangan, pertanian dan perikanan.
Apabila terjadi lonjakan harga atau gangguan pasokan, pemerintah dapat melakukan intervensi melalui sejumlah langkah, termasuk operasi pasar. Amirullah menyebut langkah tersebut pernah diterapkan di seluruh kecamatan di Pontianak.
“Kalau dipandang perlu dan terjadi distorsi harga yang tinggi, operasi pasar bisa dilakukan. Seperti yang sudah kita lakukan sebelumnya,” katanya.
Meski kondisi saat ini dinilai masih terkendali, pemantauan akan terus dilakukan untuk mendeteksi lebih awal perubahan harga maupun potensi gangguan distribusi.
“Untuk sekarang kondisinya masih relatif stabil. Tetapi pemantauan tetap kita lakukan supaya kalau ada perubahan, pemerintah bisa segera mengambil langkah,” pungkasnya.
