Kamis, 05 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Beranda › Nasional
Nasional

Sejumlah Wilayah Kalbar Masuk Pemetaan PLTN, Ketapang Jadi Salah Satu Kandidat

✍️ Fitriani 🕒 05 Nov 2026 👁️ 1x dibaca
Paparan peta lokasi potensial pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia. Sejumlah wilayah di Kalimantan Barat, termasuk Bengkayang, Sambas, dan Ketapang, masuk dalam pemetaan awal calon lokasi PLTN.
Paparan peta lokasi potensial pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia. Sejumlah wilayah di Kalimantan Barat, termasuk Bengkayang, Sambas, dan Ketapang, masuk dalam pemetaan awal calon lokasi PLTN. Foto: istimewa

infokayong.com – Sejumlah wilayah di Kalimantan Barat masuk dalam pemetaan lokasi potensial pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia. Salah satu daerah yang tercantum dalam daftar tersebut adalah Kabupaten Ketapang.

Pemetaan ini menjadi bagian dari persiapan pemerintah dalam mewujudkan pembangunan PLTN pertama di Indonesia yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2032.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan telah menyiapkan infrastruktur riset, penguasaan teknologi, serta sumber daya manusia (SDM) untuk mendukung rencana pengembangan energi nuklir tersebut.

Direktur Kebijakan Lingkungan Hidup, Kemaritiman, Sumber Daya Alam, dan Ketenaganukliran BRIN, Ratih Damayanti, mengatakan energi nuklir kini memiliki peran strategis dalam transisi energi nasional. Selain mendukung target emisi nol bersih atau net zero emission, energi nuklir juga dinilai dapat membantu menjaga pasokan listrik dan daya saing industri.

“Energi nuklir bukan lagi sekadar opsi alternatif, melainkan menjadi enabler utama untuk mencapai net zero emission,” ujar Ratih di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Rabu (4/11/2026), dikutip dari laman BRIN.

Dalam pemetaan lokasi potensial PLTN, sejumlah kawasan di Kalimantan Barat turut diperhitungkan. Wilayah tersebut antara lain Pulau Semesak dan Pantai Gosong di Kabupaten Bengkayang, sejumlah kawasan di Kabupaten Sambas, serta beberapa titik di Kabupaten Ketapang.

Lokasi di Ketapang yang masuk dalam daftar tersebut meliputi Kramatjaya, Muara Pawan, Pagar Mentimun, Kendawangan, dan Air Hitam.

Sementara itu, Pantai Gosong di Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang, sebelumnya telah menjadi lokasi pemetaan rona awal lingkungan oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) pada Oktober 2024. Kegiatan tersebut mencakup pengambilan sampel tanah dan air serta pengukuran paparan radiasi latar.

Meski demikian, masuknya kawasan-kawasan tersebut dalam daftar pemetaan belum berarti penetapan lokasi pembangunan PLTN. Setiap calon tapak masih harus melalui kajian kelayakan yang mencakup aspek keselamatan, kondisi geologi, lingkungan, keekonomian, dan persyaratan teknis lainnya.

Ratih menjelaskan, Indonesia memiliki pengalaman dalam pengoperasian fasilitas reaktor nuklir. Saat ini terdapat tiga fasilitas, yakni Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy berkapasitas 30 megawatt di Serpong, Reaktor Triga 2000 di Bandung, serta Reaktor Kartini di Yogyakarta.

Ketiga fasilitas tersebut menjadi bagian dari pengalaman nasional dalam penguasaan teknologi, penerapan budaya keselamatan, dan pengoperasian reaktor. BRIN juga mengoperasikan fasilitas pengelolaan limbah radioaktif untuk mendukung keamanan dan perlindungan lingkungan.

Selain infrastruktur, penyiapan tenaga ahli menjadi perhatian penting. Menurut Ratih, pengembangan teknologi nuklir membutuhkan SDM yang kompeten dan berkelanjutan.

“Inovasi teknologi setinggi apa pun tidak akan berjalan tanpa SDM yang andal dan berkelanjutan. Penyiapan SDM adalah prioritas terbesar kita saat ini,” tegasnya.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, BRIN menjalankan program beasiswa riset dan pendidikan teknik nuklir lintas universitas. Edukasi kepada generasi muda juga dilakukan melalui kegiatan Science Festival 2026.

BRIN turut memperkuat kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan sejumlah negara mitra, terutama dalam penerapan standar keselamatan, regulasi, serta pengawasan teknologi nuklir.

Kesiapan Indonesia menuju pembangunan PLTN 2032 tersebut dibahas dalam Seminar Nasional bertema “PLTN 2032: Siap Dibangun, Siap Dibiayai, Siap Diawasi?” yang diselenggarakan melalui kolaborasi BRIN, Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI), dan Majalah Listrik Indonesia.

Ketua Umum HIMNI Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan, target pembangunan PLTN membutuhkan keseriusan dan langkah nyata dari berbagai pihak. Dukungan terhadap program tersebut, menurutnya, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.

“Kami ingin serius hingga 2032, maka harus bergerak mulai sekarang. Tentu saja tidak hanya bergantung pada pemerintah saja, tetapi kita semua harus saling mendukung,” ujarnya.

HIMNI menyatakan siap membantu menyosialisasikan energi dan teknologi nuklir kepada masyarakat. Seminar tersebut juga diharapkan menghasilkan pembahasan lebih konkret mengenai pemilihan teknologi, kemampuan pembiayaan, dan upaya mewujudkan kemandirian energi nasional.

“Target kita tidak hanya soal swasembada pangan saja, tapi bagaimana energi kita juga mandiri. Energi nuklir adalah salah satu opsi bagi Indonesia,” pungkas Djarot.

F
FitrianiEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update