Dampak Karhutla di Kayong Utara: 1.314 KK Krisis Air Bersih, Bupati Dorong Perbaikan Pipa Sungai Buloh
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di berbagai wilayah kembali memicu persoalan serius bagi sektor pelayanan publik dasar. Sebanyak 1.314 kepala keluarga (KK) di Kabupaten Kayong Utara (KKU), Provinsi Kalimantan Barat, kini harus menghadapi situasi darurat berupa krisis air bersih. Bencana lingkungan tahunan tersebut tidak hanya merusak ekosistem dan memicu polusi udara, melainkan turut melumpuhkan infrastruktur vital penyedia air bersih bagi ribuan warga yang tinggal di daerah terdampak.
Menyikapi kondisi darurat kemanusiaan ini, langkah cepat langsung diambil oleh jajaran pimpinan daerah setempat. Bupati Kayong Utara, Romi Wijaya, secara proaktif melakukan koordinasi intensif bersama pihak Balai Wilayah Sungai Kalimantan I (BWSK I) Pontianak pada Rabu (4/11) lalu. Langkah diplomasi dan koordinasi lintas instansi ini dilakukan guna mencari solusi konkret serta mempercepat perbaikan infrastruktur air bersih yang mengalami kerusakan parah akibat terjilat api.
Permasalahan utama dari lumpuhnya distribusi air bersih ini berpusat pada kerusakan infrastruktur jaringan pipa di kawasan Sungai Buloh yang selama ini menjadi andalan utama. Pipa-pipa transmisi air yang membentang di wilayah tersebut mengalami kerusakan berat akibat hantaman musibah karhutla yang melanda kawasan sekitar beberapa waktu lalu. Akibatnya, pasokan air bersih yang biasanya mengalir lancar ke rumah-rumah warga seketika terhenti total, membuat ribuan masyarakat di beberapa desa mengalami kesulitan besar untuk memenuhi kebutuhan harian mereka seperti memasak, mandi, dan minum.
Dalam pertemuan koordinasi yang berlangsung di Pontianak tersebut, Bupati Romi Wijaya menegaskan komitmen penuh pemerintah kabupaten dalam mengawal proses pemulihan infrastruktur vital ini. Pemkab Kayong Utara dipastikan tidak akan tinggal diam dan akan terus mendorong pihak pemerintah pusat melalui BWSK I agar penanganan teknis di lapangan dapat segera direalisasikan tanpa menunggu waktu yang terlalu lama. Mengingat jaringan pipa Sungai Buloh memiliki fungsi yang sangat krusial bagi hajat hidup orang banyak, percepatan perbaikan menjadi harga mati yang harus segera dituntaskan demi keselamatan dan kesejahteraan warga.
Berdasarkan data teknis di lapangan, dampak terparah dari putusnya jaringan pipa air bersih ini dirasakan secara langsung oleh masyarakat yang tersebar di tiga desa utama. Di wilayah-wilayah tersebut, krisis air bersih telah mengubah pola hidup harian warga secara drastis, di mana mereka terpaksa mengandalkan pasokan air darurat seadanya atau mengharapkan bantuan pengiriman air bersih dari instansi terkait. Situasi ini tentu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut mengingat air bersih merupakan pilar utama kesehatan dan kelangsungan hidup masyarakat di tengah pemulihan pascabencana.
Percepatan penanganan yang dikoordinasikan langsung oleh kepala daerah dengan instansi vertikal di tingkat provinsi ini diharapkan mampu memulihkan fungsi distribusi air bersih secara bertahap. Apabila perbaikan jaringan pipa Sungai Buloh dapat segera diselesaikan oleh pihak berwenang, aliran air bersih dipastikan akan segera normal kembali dan mampu memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat di tiga desa terdampak tersebut. Pemerintah daerah optimis bahwa sinergi yang kuat antara pemerintah kabupaten dan pusat akan mempercepat proses normalisasi kehidupan warga Kayong Utara dari bayang-bayang krisis ekologis.
